Archive for April 2022

 Gerhana adalah fenomena astronomi yang terjadi apabila sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Istilah ini umumnya digunakan untuk gerhana Matahari ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, atau gerhana bulan saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. Namun, gerhana juga terjadi pada fenomena lain yang tidak berhubungan dengan Bumi atau Bulan, misalnya pada planet lain dan satelit yang dimiliki planet lain.

Di dalam agama Islam, umat Muslim yang mengetahui atau melihat terjadinya gerhana bulan ataupun matahari, maka selayaknya segera melakukan salat kusuf (salat gerhana)

sumber:wikipedia.com

GERHANA

Comments : 0

 Bulan adalah satelit alami Bumi satu-satunya[d][7] dan merupakan satelit terbesar kelima dalam Tata Surya. Bulan juga merupakan satelit alami terbesar di Tata Surya menurut ukuran planet yang diorbitnya,[e] dengan diameter 27%, kepadatan 60%, dan massa 181 (1.23%) dari Bumi. Di antara satelit alami lainnya, Bulan adalah satelit terpadat kedua setelah Io, satelit Jupiter.

Bulan berada pada rotasi sinkron dengan Bumi, yang selalu memperlihatkan sisi yang sama pada Bumi, dengan sisi dekat ditandai oleh mare vulkanik gelap yang terdapat di antara dataran tinggi kerak yang terang dan kawah tubrukan yang menonjol. Bulan adalah benda langit yang paling terang setelah Matahari. Meskipun Bulan tampak sangat putih dan terang, permukaan Bulan sebenarnya gelap, dengan tingkat kecerahan yang sedikit lebih tinggi dari aspal cair. Sejak zaman kuno, posisinya yang menonjol di langit dan fasenya yang teratur telah memengaruhi banyak budaya, termasuk bahasapenanggalanseni, dan mitologi. Pengaruh gravitasi Bulan menyebabkan terjadinya pasang surut di lautan dan pemanjangan waktu pada hari di Bumi. Jarak orbit Bulan dari Bumi saat ini adalah sekitar tiga puluh kali dari diameter Bumi, yang menyebabkan ukuran Bulan yang muncul di langit hampir sama besar dengan ukuran Matahari, sehingga memungkinkan Bulan untuk menutupi Matahari dan mengakibatkan terjadinya gerhana matahari total. Jarak linear Bulan dari Bumi saat ini meningkat dengan laju 3.82±0.07 cm per tahun, meskipun laju ini tidak konstan.[8]

Bulan diperkirakan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, tak lama setelah pembentukan Bumi. Meskipun terdapat sejumlah hipotesis mengenai asal usul Bulan, hipotesis yang paling diterima saat ini menjelaskan bahwa Bulan terbentuk dari serpihan-serpihan yang terlepas setelah sebuah benda langit seukuran Mars bertubrukan dengan Bumi.

Bulan adalah satu-satunya benda langit selain Bumi yang telah didarati oleh manusiaProgram Luna Uni Soviet adalah wahana pertama yang mencapai Bulan dengan pesawat ruang angkasa nirawak pada tahun 1959; program Apollo NASA Amerika Serikat merupakan misi luar angkasa berawak satu-satunya yang telah mencapai Bulan hingga saat ini, dimulai dengan peluncuran misi berawak Apollo 8 yang mengorbit Bulan pada tahun 1968, dan diikuti oleh enam misi pendaratan berawak antara tahun 1969 dan 1972, yang pertama adalah Apollo 11. Misi ini kembali ke Bumi dengan membawa 380 kg batuan Bulan, yang digunakan untuk mengembangkan pemahaman geologi mengenai asal usul, pembentukan struktur dalam, dan sejarah geologi Bulan.

Setelah misi Apollo 17 pada 1972, Bulan hanya disinggahi oleh pesawat ruang angkasa nirawak. Misi-misi tersebut pada umumnya merupakan misi orbit; sejak tahun 2004, JepangTiongkokIndiaAmerika Serikat, dan Badan Luar Angkasa Eropa telah meluncurkan wahana pengorbit Bulan, yang turut bersumbangsih terhadap penemuan es air di kawah kutub Bulan. Pasca Apollo, dua negara juga telah mengirimkan misi rover ke Bulan, yakni misi Lunokhod Soviet terakhir pada tahun 1973, dan misi berkelanjutan Chang'e 3 RRC, yang meluncurkan rover Yutu pada tanggal 14 Desember 2013.

Misi berawak ke Bulan pada masa depan telah direncakan oleh berbagai negara, baik yang didanai oleh pemerintah atau swasta. Di bawah Perjanjian Luar Angkasa, Bulan tetap bebas dijelajahi oleh semua negara untuk tujuan damai.

sumber:wikipedia.com 



KONDISI BULAN

Comments : 0

 Dahulu orang beranggapan bumi adalah pusat alam semesta.

Selain itu, mereka juga meyakini matahari bergerak mengelilingi bumi.



Namun, keyakinan itu tumbang ketika tahun 1543, Nicholas Copernicus mempublikasikan bulan bergerak mengelilingi bumi, sedangkan bumi dan planet-planet lainnya bergerak mengelilingi matahari.



1. Bentuk bumi

Selama bertahun-tahun, para pelaut mengamati hal yang pertama kali mereka lihat di laut adalah puncak kapal.

Hal ini menunjukkan bumi berbentuk bulat.



Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Mengenal Kondisi Bumi: Bentuk, Rotasi, hingga Revolusi Bumi, https://www.tribunnews.com/pendidikan/2021/12/29/mengenal-kondisi-bumi-bentuk-rotasi-hingga-revolusi-bumi.
Penulis: Katarina Retri Yudita
Editor: Pravitri Retno WidyastutI



KONDISI BUMI

Comments : 0

 Gramedia Literasi  Tata Surya merupakan kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.

Tata Surya terbagi menjadi

  1. Matahari,
  2. empat planet bagian dalam,
  3. sabuk asteroid,
empat planet bagian luar, dan

Awan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar. Simak penjelasan lebih lengkapnya mengenai Tata Surya berikut ini, Grameds:



Sistem Tata Surya


sistem tata surya

Comments : 0

 Tata Surya[a] adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi,[b] dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.

Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalamsabuk asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan piringan tersebarAwan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar.

Berdasarkan jaraknya dari Matahari, kedelapan planet Tata Surya ialah Merkurius (57,9 juta km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars (228 juta km), Jupiter (779 juta km), Saturnus (1.430 juta km), Uranus (2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Keempat planet terdalam, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars adalah planet kebumian yang terdiri atas batuan dan logam. Sementara itu, keempat planet terluar adalah planet raksasa yang jauh lebih besar dari planet kebumian. Dua planet terbesar, yaitu Jupiter dan Saturnus adalah planet raksasa gas yang sebagian bersar terdiri atas hidrogen dan helium. Dua planet lainnya, Uranus dan Neptunus, adalah planet raksasa es yang terdiri atas senyawa dengan titik leleh lebih tinggi dari hidrogen dan helium, disebut senyawa volatil seperti air, amonia, dan metana.

Sejak pertengahan 2008, ada lima objek angkasa yang diklasifikasikan sebagai planet katai. Orbit planet-planet katai, kecuali Ceres, berada lebih jauh dari Neptunus. Kelima planet katai tersebut ialah Ceres (415 juta km. di sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kelima), Pluto (5.906 juta km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan), Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris (10.100 juta km).

Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet katai itu dikelilingi oleh satelit alami. Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.

https://id.wikipedia.org/wiki/Tata_Surya



TATA SURYA

Comments : 0

 

Gempa Bumi

Gempa bumi adalah getaran atau getar-getar yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng Bumi). Frekuensi suatu wilayah, mengacu pada jenis dan ukuran gempa Bumi yang dialami selama periode waktu. Gempa Bumi diukur dengan menggunakan alat Seismometer.

Momen Magnitudo adalah skala yang paling umum di mana gempa Bumi terjadi untuk seluruh dunia. 

Skala Rickter adalah skala yang dilaporkan oleh observatorium seismologi nasional yang diukur pada skala besarnya lokal 5 magnitude. Kedua skala yang sama selama rentang angka mereka valid. Gempa 3 magnitude atau lebih sebagian besar hampir tidak terlihat dan jika besarnya 7 lebih berpotensi menyebabkan kerusakan serius di daerah yang luas, tergantung pada kedalaman gempa. Gempa Bumi terbesar bersejarah besarnya telah lebih dari 9, meskipun tidak ada batasan besarnya. Gempa Bumi besar terakhir besarnya 9,0 atau lebih besar adalah 9.0 magnitudo di Jepang pada tahun 2011 (per Maret 2011), dan itu adalah gempa Jepang terbesar sejak pencatatan dimulai. Intensitas getaran diukur pada modifikasi Skala Mercalli.

Jenis gempa bumi dapat dibedakan berdasarkan:

Berdasarkan penyebab

Gempa Bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di Bumi, getaran gempa Bumi yang kuat mampu menjalar keseluruh bagian Bumi. Gempa bumi tektonik disebabkan oleh pelepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba.

Gempa Bumi ini diakibatkan oleh tumbukan meteor atau asteroid yang jatuh ke Bumi, jenis gempa Bumi ini jarang terjadi

Gempa Bumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada daerah pertambangan, gempabumi ini jarang terjadi dan bersifat lokal.

Gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas dari manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir atau palu yang dipukulkan ke permukaan bumi.

Gempa Bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempa bumi. Gempa bumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut.

Berdasarkan kedalaman

  • Gempa bumi dalam

Gempa bumi dalam adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi (di dalam kerak bumi). Gempa bumi dalam pada umumnya tidak terlalu berbahaya.

  • Gempa bumi menengah

Gempa bumi menengah adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada antara 60 km sampai 300 km di bawah permukaan bumi.gempa bumi menengah pada umumnya menimbulkan kerusakan ringan dan getarannya lebih terasa.

  • Gempa bumi dangkal

Gempa bumi dangkal adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada kurang dari 60 km dari permukaan bumi. Gempa bumi ini biasanya menimbulkan kerusakan yang besar.

Berdasarkan gelombang/getaran gempa

  • Gelombang Primer

Gelombang primer (gelombang lungituudinal) adalah gelombang atau getaran yang merambat di tubuh bumi dengan kecepatan antara 7–14 km/detik. Getaran ini berasal dari hiposentrum.

  • Gelombang Sekunder

Gelombang sekunder (gelombang transversal) adalah gelombang atau getaran yang merambat, seperti gelombang primer dengan kecepatan yang sudah berkurang,yakni 4–7 km/detik. Gelombang sekunder tidak dapat merambat melalui lapisan cair.

Penyebab terjadinya gempa bumi

Kebanyakan gempa Bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang disebabkan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan di mana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa Bumi akan terjadi.

Pergeseran lempeng bumi dapat mengakibatkan gempa bumi karena dalam peristiwa tersebut disertai dengan pelepasan sejumlah energi yang besar. Selain pergeseran lempeng bumi, gerak lempeng bumi yang saling menjauhi satu sama lain juga dapat mengakibatkan gempa bumi. Hal tersebut dikarenakan saat dua lempeng bumi bergerak saling menjauh, akan terbentuk lempeng baru di antara keduanya. Lempeng baru yang terbentuk memiliki berat jenis yang jauh lebih kecil dari berat jenis lempeng yang lama. Lempeng yang baru terbentuk tersebut akan mendapatkan tekanan yang besar dari dua lempeng lama sehingga akan bergerak ke bawah dan menimbulkan pelepasan energi yang juga sangat besar. Terakhir adalah gerak lempeng yang saling mendekat juga dapat mengakibatkan gempa bumi. Pergerakan dua lempeng yang saling mendekat juga berdampak pada terbentuknya gunung. Seperti yang terjadi pada gunung Everest yang terus tumbuh tinggi akibat gerak lempeng di bawahnya yang semakin mendekat dan saling bertumpuk.

Gempa Bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan-lempengan tersebut. Gempa Bumi yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan translasional. Gempa Bumi fokus dalam kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan litosfer yang terjepit kedalam mengalami transisi fase pada kedalaman lebih dari 600 km.

Beberapa gempa Bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gunung berapi. Gempa Bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi. Beberapa gempa Bumi (jarang namun) juga terjadi karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam, seperti Dam Karibia di Zambia, Afrika. Sebagian lagi (jarang juga) juga dapat terjadi karena injeksi atau akstraksi cairan dari/ke dalam Bumi (contoh, pada beberapa pembangkit listrik tenaga panas Bumi dan di Rocky Mountain Arsenal). Terakhir, gempa juga dapat terjadi dari peledakan bahan peledak. Hal ini dapat membuat para ilmuwan memonitor tes rahasia senjata nuklir yang dilakukan pemerintah. Gempa Bumi yang disebabkan oleh manusia seperti ini dinamakan juga seismisitas terinduksi.sumber;https://bpbd.ntbprov.go.id/


gempa bumi dan gunung berapi

Comments : 0

 MENGENAL TEORI TEKTONIK LEMPENG

Oleh:

Ahmad Saepullah, ST

 

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Banten

 

Manusia dianugerahi Tuhan kemampuan untuk berfikir dan berkembang, karenanya cara pandang manusia terhadap sesuatu dapat berubah dari waktu ke waktu. Cara pandang/pemahaman manusia biasanya diejawantahkan dalam suatu teori, yang didukung dengan bukti-bukti ilmiah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak heran jika kemajuan teknologi seringkali menciptakan teori baru, yang bisa jadi mendukung atau meruntuhkan teori sebelumnya.

 

Begitupun dalam memahami struktur Bumi, cara pandang manusia berubah-ubah seiring perkembangan zaman, dulu para ahli menganggap bahwa daratan dan lautan bersifat statis, bentuk-bentuk benua dan lautan sendiri tidak berubah dari sejak awal pembentukan bumi. Namun kemudian seiring berkembangnya ilmu dan teknologi, muncul teori-teori yang menyatakan bahwa struktur daratan dan lautan yakni bersifat dinamis, pada perkembangannya, teori inilah yang disebut sebagai Teori Tektonik Lempeng.

 

Teori  Tektonik Lempeng mampu merubah cara pandang manusia dalam melihat struktur bumi, potensi kekayaan alam dan kebencanaan. Cara pandang Teori ini juga mampu menjelaskan keberadaan gunung berapi serta  daerah-daerah yang rentan gempa. Walaupun relatif baru, namun teori ini hampir sama dahsyatnya dengan teori relativitas yang dikemukakan Einstein. Semakin kita mengetahui Teori Tektonik Lempeng, semakin kita dapat memahami semua potensi, baik kekuatan maupun keindahan dari bumi yang kita diami ini.

 

Jalan Panjang Penemuan Teori Tektonik Lempeng

 

Teori Tektonik Lempeng dapatlah dikatakan sebagai “kristalisasi” dari banyak teori yang menyatakan bahwa struktur bumi ini sesungguhnya bersifat dinamis. Perubahan total cara berfikir dan diterimanya konsep ini terjadi dalam tempo yang lama seiring makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Sebelum digunakannya terminologi “Tektonik Lempeng”, konsep bumi yang dinamis mula-mula di pelopori oleh teori Continental Drift (Pergeseran Benua) yang diperkenalkan oleh meteorologist asal Jerman Lothar Wagener pada Tahun 1915. Teorinya menyatakan bahwa pada periode Kapur (sekitar 200 juta tahun lalu), semua benua dulunya menyatu dalam satu superbenua yang di sebut Pangea, namun kemudian terpecah menjadi kontinen-kontinen yang lebih kecil, lalu berpindah secara mengapung menempati posisinya seperti sekarang ini.

Gambar 1. Ilustrasi Teori Continental Drift. Menurut teori ini Bumi dahulunya hanya satu daratan yang disebut Pangea.  (Sumber: britannica)

 

Untuk mendukung teorinya, Wegener mengemukakan penemuan ilmiahnya sebagai bukti tentang adanya super-kontinen Pangaea tersebut, diantaranya adanya kecocokan/kesamaan Garis Pantai antara Benua Afrika dan Amerika Selatan, kesamaan fosil dan kesamaan batuan, namun begitu Wegener tidak mampu menjelaskan secara mendasar gaya-gaya apa yang bisa menggerakkan benua-benua tersebut saling menjauhi satu sama lainnya. Wegener hanya menerangkan dengan sangat sederhana bahwa pergerakan benua-benua tersebut terjadi di atas dasar samudera. Pendapat ini kemudian banyak dipertanyakan oleh para ahli, Harold Jeffreys salah satunya, seorang ahli geofisika terkenal dari Inggris mengatakan adalah tidak mungkin sebuah massa yang sangat besar tidak terpecah ketika bergerak di lantai samudera. Demikianlah pertanyaan tersebut masih menjadi misteri yang belum bisa terpecahkan sehingga tidaklah mengejutkan, bahwa Teori Continental Drift tidak diterima dengan baik pada masa itu.

 

Setelah meninggalnya Wegener, Teori Continental Drift secara berangsur hampir dilupakan karena dianggap tidak biasa, absurd, dan tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, banyaknya bukti baru yang timbul di awal tahun 1950-an membangkitkan kembali perdebatan tentang teori dari Wegener itu, terutama setelah adanya perkembangan teknologi eksplorasi pemetaan bawah laut pada periode tahun 1950-an (Gambar 2).

 

 

 

 

Pemetaan bawah laut yang banyak dilakukan dari 1900 hingga 1950-an menghasilkan beberapa penemuan baru, salah satunya yaitu ditemukannya rangkaian pegunungan besar di dasar samudera yang mengelilingi bumi, yang kemudian dinamai dengan istilah “Bubungan Tengah Samudera” (Mid-Ocean Ridge). Penemuan lainya yaitu adanya medan magnet purba yang terekam pada batuan dasar samudera (Paleomagmatisme).

Gambar 2. Kapal-kapal yang digunakan untuk eksplorasi laut hingga Tahun 1950-an. Data-data yang diperoleh diantaranya morfologi permukaan laut, medan magnet batuan, endapan sedimen & ketebalan kerak samudera. (Sumber: Jason Morgan, 2018)

 

Penemuan-penemuan ini kemudian memicu ditemukannya teori baru yang disebut Teori Pemekaran Lantai Samudera (Sea Floor Spreading). Teori ini dikemukakan pada Tahun 1962 oleh Harry H. Hess, seorang geologis dari Princeton University dan Robert S Dietz dari Survey Pantai dan Geodesi Amerika.

Gambar 3. Ilustrasi Global Mid Ocen Ridge (Bubungan Tengah Samudera). (Sumber: USGS)

Hess berpendapat bahwa kerak samudera merupakan proses daur ulang. Pertama-tama kerak samudera yang baru terbentuk di sepanjang bubungan (Mid Oceanic Ridge) lalu bergerak menjauhi bubungan, kemudian secara perlahan masuk dibawah kerak benua dan mengalami penggerusan.

Gambar 4. Prof. Dr. Harry Hess. Seorang Geologis USA Penemu Teori Sea Floor Spreading (Sumber: gettyimages.com)

 

Tidak seperti Wegener, dalam menguraikan penyebab utama pergerakan kerak, Hess menggunakan Teori Arus Konveksi yang sebelumnya dikemukakan oleh Vening Meinesz pada Tahun 1930. Teori ini menjelaskan bahwa perpecahan benua dan pergerakan lempeng disebabkan oleh adanya perpindahan energi panas yang terjadi dalam lapisan astenosfer bumi. Energi itu sendiri disebabkan oleh adanya peluruhan unsur-unsur radioaktif dalam inti bumi.

Gambar 5. Hipotessa Hess tentang daur ulang kerak samudera & arus konveksi dalam tulisannya yang berjudul History of Ocean Basin (Hess, 1962)

 

 

 

Penemuan Hess ini banyak menginspirasi para Ilmuan, salah satunya adalah Seorang Ahli geofisika Kanada bernama J. Tuzo Wilson. Wilson mengenal Harry Hess pada akhir tahun 1930-an ketika belajar untuk meraih gelar doktornya di Universitas Princeton USA. Pemikiran dan teorinya juga banyak dipengaruhi oleh ide-ide menarik Harry Hess.

 

Pada tahun 1965, Wilson banyak mengembangkan konsep yang penting bagi teori lempeng-tektonik. Beberapa kontribusi Wilson diantaranya yaitu penemuannya tentang Teori Hotspot dan Teori Pergerakan Transform. Wilson juga yang pertama-tama menggunakan istilah lempeng dalam menjelaskan teori-teori nya.

 

Argumen-argumen yang menguatkan teori pergerakan lempeng hingga akhir tahun 60-an semakin banyak, para ilmuan dari masing-masing kualifikasi/bidang keahlian turut menyumbangkan pendapat-pendapatnya, sehingga konsep Teori Tektonik Lempeng semakin dikenal dunia.

Gambar 6. Para Pioner Teori Tektonik Lempeng (Sumber: geolsoc.org.uk)

Ilmuan dunia yang turut memperkuat Teori Tektonik Lempeng salah satunya Dan Mc Kenzie, seorang geofisikawan asal Inggris. Tulisan-tulisanya dari Tahun 1960 s.d 1970 secara detail mengungkapkan sistem kerja pergerakan lempeng dari aspek kinematik, dia juga banyak menjelaskan mengenai struktur Bumi, khususnya viskositas mantel. Selain itu Dan Mc Kenzie termasuk yang mula-mula meluaskan terminologi “Lempeng” dalam setiap tulisannya. Dalam tulisannya Tahun 1969 yang berjudul Speculations on the Consequences and Causes of Plate Motions (Gambar 7), Mc Kenzie berpendapat bahwa oleh karena batas zona seismik (kegempaan) secara umum tidak sama dengan batas benua maka istilah Continental Drift (pergeseran benua) kurang tepat bila diaplikasikan, sebagai gantinya digunakan istilah “Plate” (Lempeng).

 

Gambar 7. Penggunaan Terminologi “Plate” (Lempeng) yang digunakan Mc Kenzie

dalam menjelaskan hipotesa-hipotesanya (Kenzie, 1969)

 

Prinsip Utama Teori Tektonik Lempeng

Prinsip utama dari Teori Tektonik Lempeng adalah bahwa Bumi ini tersusun oleh lempeng-lempeng yang bergerak. Suatu lempeng dapat berupa kerak samudera, kerak benua, atau gabungan dari kedua kerak tersebut. Adanya pergerakan lempeng ini disebabkan oleh adanya arus konveksi, yaitu berupa perpindahan energi panas yang terjadi di lapisan astenosfer.

Karena semua lempeng-lempeng tersebut bergerak, maka terjadilah interaksi antara satu lempeng dengan lempeng lainnya, interaksi tersebut berpusat di sepanjang batas dari lempeng-lempeng itu. Ada yang berbenturan, ada yang saling menjauh dan ada yang bergeser (Gambar 8). Setiap interaksi antar lempeng itulah yang kemudian menimbulkan dinamika di Bumi ini, baik perubahan morfologi, aktivitas vulkanisme, gempa bumi, tsunami dan sebagainya.

Gambar 8. Tipe Interaksi Antar Lempeng. Convergent (Gerak lempeng saling mendekat), Divergent (Gerak lempeng saling menjauh), Transform (Gerak lempeng bergesekan secara horizontal). (Sumber: Duarte, 2016)

 

Menurut Teori ini, terdapat 13 lempeng besar dan kecil yang membentuk Bumi ini yaitu:

Lempeng Besar

Lempeng Kecil

  1. Lempeng Pasific (Pasific plate),
  2. Lempeng Euroasia (Eurasian plate),
  3. Lempeng India-Australia (Indian-Australian plate)
  4. Lempeng Afrika (African plate)
  5. Lempeng Amerika Utara (North American plate)
  6. Lempeng Amerika Selatan (South American plate)
  7. Lempeng Antartika (Antartic plate)

 

  1. Lempeng Nasca (Nasca plate)
  2. Lempeng Arab (Arabian plate)
  3. Lempeng Karibia (Caribian plate)
  4. Lempeng Philippines (Phillippines plate)
  5. Lempeng Scotia (Scotia plate)
  6. Lempeng Cocos (Cocos plate)

 

 

Gambar 9. Peta Lempeng Dunia (Sumber: USGS)


teori tektonik lempeng

Comments : 0

- Copyright © Website Erick - Hentai Ouji - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -